Hay para sahabat pembaca dan para spiritualis mari kita sedikit mengulas kembali pemahaman arti dari spiritual. Tentunya mungkin banyak sekali para spiritualis yang memiliki pemahaman berbeda – beda, kenapa berbeda – beda sahabat pembaca? Iyah itu yang terjadi adanya setiap suku, agama, budaya, serta adat istiadat memiliki pemahaman yang berbeda pada sudut pandang kacamatanya.Spiritual adalah hubungan tentang kerohanian / ketuhanan yang dimana telah di anut oleh sekelompok tertentu maupun individualism.
Menurut Burkhardt ( tahun 1993 ) Spiritualis meliputi aspek – aspek, diantaranya :
1) Berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau ketidak pastian dalam kehidupan.
2) Menemukan arti dan tujuan hidup.
3) Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri.
4) Mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan yang maha tinggi / kuasa
Konsep kepercayaan ini mempunyai dua pengertian. Yang pertama kepercayaan yang didenifisikan sebagai kultur atau budaya, lembaga keagamaan dan lain – lain, yang kedua kepercayaan yang didefinisikan sesuatu hubungan ketuhanan,kekuatan tertinggi,orang yang memiliki wewenang atau kekuasaan tertinggi.dimana alasan tentang keyakinan ( belief and action ), harapan ( hope ). Bahkan ada yang menyebutkan spiritual adalah percakapan yang kerap sering di ucapkan setiap hari, menurut oxford English dictionary “ dimensi supranatural berbeda dengan dimensi fisik,perasaan atau pernyataan jiwa,kekudusan,sesuatu yang suci,pemikiran intelektual dan berkualitas dengan adanya perkembangan pemikiran dan perasaan. Spiritual berarti sesuatu yang mendasar, penting, dan mampu menggerakkan serta memimpin cara berpikir dan bertingkah laku seseorang.
Berdasarkan konsep keperawatan Dyson, Cobb, Forman ( tahun 1997 ). Dyson mengamati bahwa perawatan menemukan aspek spiritual tersebut dalam hubungan seseorang dengan dirinya sendiri, orang lain, dan dengan tuhan. Menururt Reed ( tahun 1992 ) spiritual mencakup hubungan intra, inter, dan transpersonal. Spiritual juga diartikan sebagai inti dari manusia yang memasuki dan mempengaruhi kehidupannya dan dimanifestasikan dalam pemikiran dan prilaku serta dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, alan dan tuhan ( Dossey and Guazetta, 2000 ). Kesimpulan yang dapat saya ambil dari bebrpa pemahaman di atas tersebut, Spiritual adalah aspek yang merupakan menyatu universal bagi semua manusia yang dimana bersifat mengintegrasi, memotivasi, menggerakkan, mempengaruhi seluruh kehidupan manusia.
Manusia adalah makhluk yang sadar bahwa ia sadar terhadap semua alasan tingkah laku, sadar inferiotasnya, maupun membimbing tingkah lakunya dan menyadari penuh arti dari segala perbuatan. Menjadi spiritual brarti memiliki ikatan yang lebih kepada hal yang bersifat kerohanian atau kejiwaan dibandingkan hal yang bersifat fisik atau material. Spiritualis merupakan kebangkitan atau pencerahan diri dalam mencapai tujuan dan makna hidup. Spiritualis merupakan bagian esensial dari keseluruhan kesehatan, dan kesejahteraan seseoarng ( Hasan, 2006:288 ). Secara terminologis spiritualis berasal dari kata “ spirit “. Dalam literature agama dan spiritualitas, istilah spirit memiliki dua makna substansial, yaitu :
a. Karakter dan inti dari jiwa – jiwa manusia, yangn masing – masing saling berkaitan, serta pengalaman dari keterkaitan jiwa – jiwa tersebut yang merupakan dasar utama dari keyakinan spiritual. Ataupun sarana yang memungkinkan manusia untuk menjalin hubungan dengan tuhan.
b. Spirit mengacu pada konsep bahwa semua “spirit” yangn saling berkaitan merupakan bagian dari sebuah kesatuan.
Ada juga yang mengartikan spiritual dari kata “spirit ( semangat )” dan “tual ( nyata )”. Spiritual merupakan suatu hubungan yang kerap dilakukan sebagian besar manusia dalam bersosialisasi, kerohanian dan pecinta alam. Berkaitan diantaranya dengan hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan tuhannya dan hubungan manusia dengan alam semesta ( bpk R lindu aji, ki aryo wisanggeni 2015 ). Di liat dari beberapa sumber yang berpendapat menurut pemahaman diatas, saya menyimpulkan dalam penangkapan pengamatan kacamata memahami bahwa spiritual adalah kebutuhan dalam kehidupan sehari – hari makhluk manusia dalam berinteraksi dengan sesamanya sebagai mahkluk sosialogi, makhluk manusia dalam berinteraksi dengan sang maha penciptanya sebagai kebutuhan kerohaniannya dan makhluk manusia berinteraksi dengan alam sebagai bentuk kepedulian lingkungan gambaran tentang kepedulian alam. Jadi secara logika spiritual itu bisa di visualisasikan dengan sebuah jalinan hubungan – hubungan sesuai kebutuhan individualisme dari pada makhluk tersebut. Dan sebagai bentuk semangat diri, kepercayan diri, kebatinan diri serta kepedulian. (bersambung)















